• Sabtu, 28 Mei 2022

AS Kecam Vonis Suu Kyi: Penghinaan terhadap Keadilan dan Demokrasi

- Selasa, 7 Desember 2021 | 13:31 WIB
Menlu AS Antony Blinken
Menlu AS Antony Blinken

UmatPost - Amerika Serikat mengecam vonis hukuman penjara terhadap pemimpin de facto Myanmar yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, Senin (6/12). Negeri Paman Sam menilai hukuman itu merupakan penghinaan terhadap demokrasi dan keadilan.
"Vonis tak adil rezim militer Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi dan represi terhadap pejabat lain yang terpilih secara demokrasi merupakan penghinaan terhadap demokrasi dan keadilan di Myanmar," ujar Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dalam pernyataan yang dirilis di situs resmi Kemlu AS.

Menurut Blinken, rezim junta militer Myanmar membiarkan keputusan hukum dan tetap pakai kekerasan secara luas terhadap rakyat Myanmar. Situasi ini tunjukkan betapa perlu mengembalikan jalur demokrasi di Myanmar.

"Kami mendesak rezim (junta Myanmar) untuk membiarkan Aung San SuuKyi dan seluruh orang yang ditahan secara tidak adil, terhitung pejabat yang dipilih secara demokrasi," kata Blinken.

AS terhitung menghendaki junta Myanmar untuk mengakhiri kekerasan di negara itu, pun menjunjung keinginan warga, dan mengembalikan transisi politik.

Pengadilan Myanmar menjatuhkan vonis terhadap Suu Kyi dalam sidang terhadap Senin (6/12). Awalnya, Suu Kyi divonis empat tahun penjara, namun hukuman kemudian dikurangi jadi dua tahun.

Baca Juga: 8 Orang Diduga Pelaku Pembakar Darwin di Langkat Dibekuk Polisi

Vonis itu dijatuhkan untuk dua dakwaan, yakni penghasutan dan pelanggaran keputusan Covid-19.

"[Suu Kyi] dijatuhi hukuman dua tahun penjara di bawah Pasal 505 (b) dan dua tahun penjara berdasarkan Undang-Undang Bencana Alam," tutur juru bicara junta Myanmar, Zaw Min Tun.

Hukuman atas Suu Kyi terhitung ditentang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Michelle Bachelet, menyebut vonis penjara Suu Kyi punyai motif politik.

Halaman:

Editor: Wahidin Noer Indra

Sumber: CNN Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengungsi Rohingya Gugat Facebook Rp2.165 Triliun

Selasa, 7 Desember 2021 | 11:32 WIB

Putin Desak WHO Segera Izinkan Vaksin Sputnik

Senin, 6 Desember 2021 | 16:39 WIB
X