• Sabtu, 28 Mei 2022

China Klaim Negara Demokrasi Terbesar di Dunia Kalahkan AS

- Selasa, 7 Desember 2021 | 11:43 WIB
Ilustrasi Bendera China dan Amerika Serikat.  (Sumber foto Zonabanten.pikiran-rakyat.com)
Ilustrasi Bendera China dan Amerika Serikat. (Sumber foto Zonabanten.pikiran-rakyat.com)

UmatPost - Republik Rakyat China mengklaim sebagai negara demokrasi terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat.
Mengutip Antara dalam buku putih Demokrasi China, sebanyak 900 juta lebih warga berpartisipasi pilih wakil untuk bagian kongres rakyat di tingkat kabupaten dan kota terhadap 2016 dan 2017.

Buku putih itu memuat bahwa nyaris 2,48 juta orang dipilih secara langsung untuk mewakili kabupaten dan kota di kongres rakyat. Saat ini partisipasi masyarakat dalam pemilihan udah mencapai 90 persen.

Buku putih berjudul "Keberhasilan Demokrasi" tersebut diterbitkan dan diluncurkan oleh Kantor Informasi Dewan Pemerintahan China (SCIO) sejak Sabtu (4/12).

Peluncuran buku putih itu diklaim sengaja untuk mendahului pelaksanaan KTT Demokrasi yang digelar oleh Amerika Serikat terhadap Kamis (9/12) hingga Jumat (10/12).

Buku putih itu lebih utamakan kepemimpinan Partai Komunis China (CPC) dalam sistem demokrasi di negara bersama dengan populasi masyarakat 1,4 miliar jiwa itu.

Baca Juga: Bloomberg: Ketahanan Covid RI Posisi 2 Terendah, di Bawah Malaysia

China mengklaim demokrasi negara itu lebih luas, lebih tulen, dan lebih efektif daripada demokrasi AS. Politikus AS mewakili grup kepentingan, tapi Deputi Sekretaris Jenderal Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China (NPC) Guo Zhenhua menyatakan, di China seluruh sistem demokrasi menjamin perubahan kehidupan masyarakat.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MFA) Zhao Lijian menambahkan, demokrasi dibangun berdasarkan histori suatu negara dan diadaptasi bersama dengan keadaan masyarakat setempat.

"Demokrasi hak seluruh bangsa, bukan hak prerogatif segelintir orang. Bentuk demokrasi berlainan dan tidak tersedia style yang sesuai untuk seluruh negara. Akan sangat tidak demokratis terkecuali untuk mengukur sistem politik yang begitu banyak ragam di dunia bersama dengan satu tolok ukur," ujarnya dalam pengarahan pers teratur di Beijing, Senin (6/12).

Halaman:

Editor: Wahidin Noer Indra

Sumber: CNN Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengungsi Rohingya Gugat Facebook Rp2.165 Triliun

Selasa, 7 Desember 2021 | 11:32 WIB

Putin Desak WHO Segera Izinkan Vaksin Sputnik

Senin, 6 Desember 2021 | 16:39 WIB
X